Jumat, 19 Maret 2021

A Destiny

Seringkali seseorang lupa akan apa yang mereka lewati, lupa akan apa yang mereka jalani. Terbuai oleh hal-hal yang pada dasarnya membuat diri mereka kehilangan arah. Yang mereka rasa tepat dan yakin, akan dibinasakan oleh harapan. Yang mereka pikir lurus dan mulus, akan digoyahkan dengan yang namanya kenyataan. Kehidupan sebenarnya tidak seburuk dengan apa yang kita bayangkan. Dengan menjalaninya, lambat laun perjalanan itu pasti akan terlewati.

Sebuah perjalanan hidup yang tidak semua orang bisa rasakan dimana letak kenikmatannya, tentu saja meletakkan dirinya dikasta paling bawah dalam pundi-pundi kehidupan yang mereka rasa kurang berpihak terhadap diri mereka masing-masing. 

Perjalanan bukan hanya menitikberatkan diri kita agar dapat mencapai suatu kenikmatan, tetapi dapat merasakan apa yang namanya diciptakan serta diberikan kesempatan untuk terus melanjutkan perjalanan. Tak sedikit dari kita yang kurang mampu mengartikan betapa pentingnya rasa syukur. Namun sebaliknya, banyak dari kita yang malah menyalahkan keadaan. 

Yang namanya perjalanan sudah dapat dipastikan adanya rintangan, entah itu ringan atau berat. hanya kitalah yang dapat menentukan porsinya, bagaimana cara kita mengahadapinya serta mencari jalan keluar permasalahan itu sendiri.  

Menjadikan kebahagian orang lain sebagai patokan kebahagiaan kita sendiri tentu saja menyusahkan dan membuat diri kita dalam masalah. Porsi kebahagian setiap orang tentu saja berbeda-beda, mengapa tidak? Bagi mereka yang bisa makan hari ini merupakan kebahagiaan yang dirasa sangat luar biasa karena dapat tidur dengan keadaan perut yang terisi. Namun, bagi sebagian orang bisa makan hari ini merupakan hal yang biasa-biasa saja, tidak ada keistimewaannya. Berbeda bukan?........ begitulah kiranya, bahwa kebahagiaan tentu saja tidak dapat diukur berapa banyak dan seberapa besar bobotnya. Itu semua dikemas dalam porsi dan standar hidup masing-masing orang. 

Dalam perjalanan hidup, dikalangan masyarakat kita banyak yang menggambarkan kehidupan dengan sebuah roda, dimana ketika digunakan tentunya roda akan berputar agar dapat menggerakkan benda lain yang terhubung dengannya. Begitu juga dengan kehidupan, dalam perjalanannya roda diandaiakan sebagai posisi masing-masing orang yang ditempatkan pada bagian-bagian sisi roda. Ketika berputar, mereka yang awalnya diposisi paling bawah akan bertukar tempat diposisi yang lebih tinggi. Namun sebaliknya, bagi mereka yang awalnya diposisi teratas akan bertukar tempat keposisi yang lebih rendah. 

Kok bisa mekanismenya disamakan dengan kehidupan?... Ya tentu saja bisa, sebab kehidupan lambat laun akan berubah. Bagi mereka yang sungguh-sungguh berusaha, pastinya hasil yang ia dapatkan tidak akan mengkhianati usaha yang telah ia keluarkan. Bagi mereka yang kepercayaan dirinya terlalu tinggi, akan dibinasakan oleh keadaan yang akan datang bahwa kepercayaan diri haruslah diimbangi dengan adanya usaha. Namun, bagiamana dengan mereka yang sudah berusaha tetapi malah dikhianati oleh hasil?.... Nah begini tepatnya, segala usaha dan upaya tidak akan mungkin dikhianati oleh hasil, tetapi hasil yang diusahakan belum tentu semuanya baik diterima oleh kamu. Bisa saja kamu diselamatkan atas hasil yang kamu idam-idamkan agar kamu tidak sulit kedepannya. 

Lebih tepatnya begini. Setiap makhluk pastinya sudah diberikan porsinya masing masing yang disebut dengan “Takdir”. Takdir lebih tau langkah baiknya kita itu bagaiamana, sebab takdir sudah ditentukan jauh jauh hari sebelum kita diciptakan. Nah, hal terpenting sebagai makhluk ciptaan tuhan tentu saja harus berikhtiar untuk mencapai yang namanya hasil dari sebuah usaha. Namun, bagaimana dengan yang namanya kekecewaan dan putus asa?... Jawabannya yaitu boleh saja kecewa, tetapi jangan berputus asa sebab jika ruangan yang satu penuh, masih ada ruangan lainnya. Asal saja kita tetap harus mau berusaha. Jangan pernah sekali kali menyalahkan takdir, sebab takdir ditentukan oleh sang pencipta. Menyalahkan takdir berarti sama saja menyalahkan Tuhan. 

Stay strong and Never give up.
Keep trying to be the best. 

Kamis, 18 Maret 2021

Menjadi Guru Di Era Digital

Semakin ke sini, teknologi informasi dan komunikasi cepat mengalami perubahan yang signifikan untuk dunia pengajaran dan pembelajaran, dari masalah tersebut mencangkup berbagai hal baik pengajaran dari guru maupun pembelajaran bagi murid. Berbeda pada era digital imigran dimana KBM berorientasi pada guru, namun dengan majunya teknologi informasi dan komunikasi pembelajaran berubah berorientasi pada siswa.

Pada hal tersebut, guru dan murid pada era sekarang memiliki pengalaman yang berbeda, pada era digital imigran terjadi dimasa dimana guru tersebut belajar, sebaliknya di era digital sekarang terjadi dimasa kalangan murid milennial.

Kegiatan pembelajarannya pun harus diperhatikan, dengan kata lain menanyakan bagaimana KBM itu dapat berlangsung apabila guru tidak menjelaskan? Dan bagaimana pula agar peserta didik dapat memahami dan menikmati proses pembelajaran?. Di era digital sekarang ini guru merupakan patokan bagi diri peserta didik (murid), sebagaimana hal tersebut menghendaki penyesuaian oleh guru dalam KBM. Sehingga dalam hal ini, guru sebagai pendidik maupun partner bagi peserta didik harus mampu untuk memiliki cara berfikir dan bersikap yang baik. Sebab dalam masalah tadi, guru dan murid berada di era digital yang berbeda, apabila guru tidak dapat berfikir dan bersikap yang baik pada era sekarang ini. alhasil, murid sulit untuk menangkap bahkan merasa tidak bergairah untuk mengikuti KBM.

Kembali kemasalah awal, era digital berkaitan erat dengan TIK, oleh sebab itu guru/pemateri harus menguasai TIK, agar murid tidak bingung dan dapat menyerap serta menyaring materi yang dibahas dengan mudah. Bagaimana jika guru/pemateri tidak menguasai TIK, maka para murid sulit mengerti bahkan enggan memperhatikan. 

Di era ini, buku tidak semata mata digunakan dalam KBM, sebab KBM berlangsung mengikuti indikator yang telah diberikan pemerintah pusat kepada badan pengajar. Di indikator tersebut murid diminta untuk mencari materi sendiri, tidak hanya dibuku tetapi juga diinternet atau media elektronik lainnya.

Dari berbagai macam permasalahan, terdapat 1 masalah bagi saya yang harus diperhatikan oleh tenaga pengajar sekarang, yaitu memikirkan tersedia atau tidaknya sarana dan prasarana pada murid seperti smartphone, komputer/laptop, buku yang sesauai dengan indikator,dan printer yang digunakan murid untuk berbagai tugas yang diberikan. Para murid juga sering mengeluh apabila sarana dan prasarana tersebut tidak mereka miliki.

Guru ibaratnya orangtua dan siswa ibaratnya anak, orangtua semestinya memberikan makanan yang bergizi kepada anaknya dengan tujuan agar anak tersebut kenyang dan mendapatkan energi untuk melakukan aktivitas nya. Memberikan makanan kepada anak jangan hanya memikirkan kenyang saja, melainkan protein dan gizi yang seimbang pada makanan anak harus diperhatikan. Namun, ada juga orang tua yang memberikan makanan kepada anaknya tanpa melihat gizi dan protein pada makanan, contohnya nasi segerobak dan lauk hanya telur dan ikan asin lalu ditambah dengan kecap, kenyang itu pasti. Lalu bagaimana sang anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik tanpa adanya protein dan gizi yang seimbang? Tentu saja pertumbuhan serta perkembangan anak tersebut tidak sebaik anak yang gizi dan protein nya terpenuhi.

Guru dapat disebut sebagai orang tua kedua setelah orang tua kandungnya, dari hal tersebut, guru layaknya orang tua yang harus memberikan pembelajaran kepada muridnya dengan tujuan agar ia mendapatkan bekal pengetahuannya untuk masa depan, lalu memperhatikan keseimbangan pembelajarannya seperti memberikan kuis dan beberapa games agar murid tidak cepat depresi dan stress. Namun ada juga beberapa guru di era sekarang ini yang sangat monoton dan acuh tak acuh terhadap muridmya, contohnya saja memberikan pembelajaran atau materi yang banyak, namun tidak mau tau apakah muridnya mengerti atau tidak?

Oleh karena itu apabila kita menjadi guru di era digital ini, jadilah guru yang bermanfaat bagi murid untuk membantu mereka meraih masa depannya dengan baik, jadilah guru yang banyak disenangi murid, jadilah guru yang rendah hati, menerima masukkan baik dari murid maupun guru lain tanpa harus menyikapi dengan emosi atau merasa terhina. Bukan guru yang hanya sekedar mendapat gelar dan gaji setiap bulannya tanpa memperhatikan orang yang ada disekitarnya, khusunya seorang murid yang ia ajar dan ia didik.

IF8 Terimakasih